Ketika Gizi Tak Sampai: Evaluasi Kegagalan Makan Bergizi Gratis (Oleh: Ardian Pramandoko)

Disusun Oleh:
Ardian Pramandoko

Dosen Pengampu: Dr. Dona Aji Karunia Putra, M.A.

UNIVERSITAS:
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tahun:
2025

PENDAHULUAN
Program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah strategis dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dengan memastikan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat dengan baik dan berkualitas. Kualitas pangan dan gizi merupakan kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Hal ini terbukti dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi makanan seimbang cenderung memiliki kemampuan konsentrasi lebih tinggi, performa akademik lebih baik, serta risiko lebih rendah mengalami penyakit infeksi.

Pemerintah resmi menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 6 Januari 2025. Hingga 15 Februari 2025, penerima manfaat MBG mencapai 770 ribu anak dan akan bertambah menjadi 1 juta anak pada akhir Februari 2025. Presiden Prabowo Subianto dalam acara HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Sabtu (15/2) menyatakan optimis program MBG akan menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Dia berharap pada akhir Juli 2025 minimal sebanyak 6 juta anak sudah bisa menikmati MBG. Optimisme tersebut dapat dipahami mengingat pemerintah telah menggandeng berbagai lembaga pendidikan, UMKM pangan, serta koperasi sekolah untuk ikut mendukung penyediaan makanan bergizi.

Implementasi program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut penuh dinamika, sorotan, dan tantangan. Founder dan CEO Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Diah Satyani Saminarsih memandang bahwa untuk mencapai hasil yang optimal, ruang perbaikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terbentang luas.

ISI
Program makan bergizi gratis merupakan inisiatif strategis yang bertujuan meningkatkan kualitas SDM Indonesia dengan memastikan pemenuhan kebutuhan gizi yang baik dan berkualitas terutama sejak usia dini. Gizi yang terpenuhi sejak masa anak-anak sangat krusial karena dapat mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang optimal. Misalnya, anak yang kekurangan zat besi cenderung mudah lelah, sulit fokus, dan tertinggal dalam mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman kompleks.

Anak-anak sekolah dan balita merupakan sasaran utama program ini, mengingat periode ini sangat menentukan masa depan kesehatan dan kemampuan belajar mereka. Kekurangan gizi pada masa awal pertumbuhan dapat menyebabkan dampak yang sulit dipulihkan seperti stunting dan penurunan kemampuan kognitif.

Berdasarkan penelitian CISDI, regulasi MBG yang saat ini tersedia adalah Surat Keputusan Deputi Bidang Penyaluran Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 2 Tahun 2024 mengenai petunjuk teknis (juknis) operasional MBG. “Juknis tersebut belum mengatur secara detail operasional MBG seperti standar kebersihan, keamanan pangan, pengumpulan bahan, pengemasan, suplai, hingga penyaluran makanan,” dilansir CISDI dalam Seri Kedua Kajian Makan Bergizi Gratis. Ketiadaan standar detail ini dapat menyebabkan variasi kualitas makanan antar daerah, misalnya ada daerah yang menyiapkan makanan dengan dapur modern, tetapi ada pula yang hanya menggunakan dapur seadanya tanpa alat pendingin.

Kegagalan program Makan Bergizi Gratis
Pelaksanaan program ini menghadapi berbagai kendala: distribusi yang belum merata, kapasitas penyimpanan yang rendah, serta lemahnya dasar hukum pelaksanaan. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG di tingkat sekolah dasar, serta mengidentifikasi peluang dan hambatan dalam implementasinya. Beberapa tantangan turut dilaporkan: kualitas makanan yang tidak terstandar, ketidaksesuaian menu dengan budaya lokal, dan kurangnya pengawasan.

Yang menjadi penghambat efektivitas program makanan bergizi adalah minimnya verifikasi dan validasi data penerima manfaat di tingkat implementasi. Program kerap bergantung pada data yang tidak diperbarui atau tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan, menyebabkan distribusi bantuan menjadi tidak merata dan sering salah sasaran.

Implementasi program ini di berbagai daerah masih menghadapi tantangan signifikan. Beberapa laporan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara makanan yang disajikan dengan standar gizi yang ditetapkan, porsi yang tidak merata, hingga jenis makanan yang kurang tepat bagi kebutuhan anak-anak usia sekolah. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas program tersebut dalam mencapai tujuannya secara nyata di lapangan. Adapun implementasi MBG di berbagai daerah menunjukkan dampak positif, seperti peningkatan semangat belajar dan kehadiran siswa di sekolah.

Dampak kegagalan implementasi program ini diperparah oleh kelemahan struktural dalam tata kelola, yang ditandai dengan tumpang tindih kewenangan antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaksana di lapangan, sebagaimana diidentifikasi oleh Widyasari dkk. serta Ayuni (2025). Tumpang tindih ini diperburuk oleh minimnya komunikasi dan koordinasi lintas sektor (pendidikan, kesehatan, sosial), yang secara signifikan menghambat efektivitas program. Di sisi transparansi dan akuntabilitas, terdapat kerentanan serius; penggunaan dana seringkali tidak jelas dan rawan diselewengkan karena belum adanya sistem pelaporan terpadu yang dapat memantau penyaluran secara real-time, serta mekanisme audit yang kuat untuk menjamin efisiensi dan kejujuran (Sari & Wibowo, 2018).

Akhir Juni lalu, kasus keracunan MBG tercatat 1.376 anak. Hanya dalam tiga bulan, siswa sekolah hingga guru yang mengalami keracunan menggelembung empat kali lipat. Bahkan pekan kemarin, peristiwa keracunan terjadi di dua lokasi berbeda. Pada Rabu (17/09), lebih dari 300 anak keracunan MBG di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sehari setelahnya, sebanyak 569 anak mengalami hal serupa di Garut, Jawa Barat. Kejadian ini menunjukkan bahwa standar keamanan pangan belum diterapkan secara ketat, misalnya makanan disimpan terlalu lama tanpa pendinginan atau diolah di tempat yang tidak higienis.

Dampak program makanan bergizi seringkali tidak maksimal karena terhalang oleh rendahnya literasi gizi di kalangan masyarakat. Banyak orang tua dan siswa belum sepenuhnya memahami pentingnya asupan bergizi, sehingga konsumsi makanan tambahan di luar program seringkali tidak mendukung upaya perbaikan gizi. Oleh karena itu, edukasi gizi berkelanjutan bagi orang tua menjadi prasyarat untuk mengubah kebiasaan makan keluarga dan mencegah stunting. Selain masalah perilaku, kegagalan program juga disebabkan oleh kurangnya kesiapan infrastruktur.

Solusi dan Rekomendasi
Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyebab berulangnya kasus keracunan dalam Program MBG, terutama terkait pengelolaan dapur SPPG yang dinilai belum memenuhi standar kebersihan. Sistem pengolahan dan distribusi makanan harus dirancang ulang melalui pendekatan yang lebih aman, efisien, dan transparan. Salah satu rekomendasi inovatif adalah pembentukan dapur sekolah dan satgas pengawas gizi di setiap satuan pendidikan sehingga makanan dapat diolah lebih dekat dengan siswa, mudah dipantau, serta mengurangi risiko kontaminasi selama distribusi. Model ini juga memungkinkan sekolah menyesuaikan menu dengan kebutuhan gizi siswa secara langsung. Jika beban operasional dianggap terlalu besar bagi pihak sekolah, opsi lain adalah skema direct funding, yaitu penyaluran dana MBG langsung kepada orang tua dengan jumlah tertentu untuk menyiapkan bekal bergizi, sementara sekolah bertindak sebagai pengawas akuntabilitas.

Alternatif ini tidak hanya meminimalkan risiko keracunan, tetapi juga menyelesaikan masalah teknis seperti makanan tidak segar, standar higienitas yang rendah, hingga menu yang kurang layak konsumsi. Melibatkan orang tua secara aktif dapat memperkuat ekosistem kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan pemerintah, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan anak. Pemerintah tetap berperan dalam pendanaan, penetapan regulasi, dan pengawasan menyeluruh. Dengan strategi tersebut, MBG dapat kembali pada tujuan awalnya: memastikan anak Indonesia memperoleh gizi berkualitas, tumbuh sehat dan cerdas, serta berkontribusi efektif dalam penurunan angka stunting.

DAFTAR PUSTAKA
CISDI. (2025). Seri Kedua Kajian Makan Bergizi Gratis. Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives.
Handayani, R., & Sary, T. (2020). Literasi gizi dalam pendidikan anak. Jurnal Gizi dan Pangan, 12(2), 45–56.
Sari, D., & Wibowo, P. (2018). Tata kelola program makan bergizi. Jurnal Administrasi Publik, 7(1), 23–34.
Widyasari, D., dkk. (2025). Evaluasi pelaksanaan MBG di sekolah dasar. Jurnal Kebijakan Publik Indonesia, 5(3), 101–115.
Ayuni, R. (2025). Analisis kendala logistik MBG. Jurnal Gizi Indonesia, 8(1), 12–22.
Fadillah, R., & Purnamasari, D. (2023). Edukasi gizi berkelanjutan. Jurnal Nutrisi dan Kesehatan, 9(4), 33–45.

Sejarah Berdirinya Media Online Nasional www.mediapatriot.co.id

Media Online Nasional www.mediapatriot.co.id didirikan oleh Hamdanil Asykar pada tanggal 27 September 2012 di Kota Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.220G Bulak Kapal Bekasi Timur dan Berbadan Hukum PT. GABUSELA (PT. GALIBUMI SEKAR LANGIT).

Namun dengan adanya peraturan baru dari Dewan PERS harus berbadan Hukum PT dibidang khusus Media maka dibuatlah PT baru dengan nama PT. MEDIA PATRIOT NASIONAL

Hamdanil Asykar selaku pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Media Online Nasional www.mediapatriot.co.id sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di PWI Bandung Jawa Barat dengan Tingkat Muda dan segera mengikuti jenjang berikutnya yaitu Madya dan Utama sebagai syarat mutlak Pemimpin Redaksi Media Online harus sudah mengikuti UKW sampai tingkat utama.

Nilai DA 57 dan PA 36 media online nasional www.mediapatriot.co.id otomatis mempunyai harga iklan / backlink yang tinggi yaitu Rp.1.200.000,- / Tayang.

Harga Khusus UMKM Hanya Rp.200.000 / Tayang.(Menjelang HUT MPI ke 12)

Menjelang ulang tahunnya yang ke 12 tqnggal 27 September 2024 media online nasional www.mediapatriot.co.id memberikan apresiasi kepada para pengusaha UMKM mendapatkan diskon iklan / backlink mulai dari 10% sampai 90% sehingga bisa memberikan Brand kepada semua UMKM bisa dikenal keseluruh Indonesia bahkan ke mancanegara. (REDAKSI)



Hubungi Redaksi / Bagian Iklan di Whatsapp Center 08999208174

Baca Juga : SEEKOR HARIMAU SERANG DOKTER HEWAN DI TAPSEL (MEDIAPATRIOT.CO.ID)

Baca Juga : KODIM 0504 /JAKARTA SELATAN BERSAMA HIPMI GELAR BAKTI SOSIAL DAN VAKSINASI (BERITAMPI.COM)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed